Menanti Pagi

© 2019 by Siaware

  • SIAware Community

Menanti Pagi

Bagi saya, Menanti Pagi lebih dari sekedar kisah penantian sang belahan jiwa. Bukunya ringan, ceritanya dekat dengan kehidupan sehari- hari namun inspiratif, sarat akan hikmah. Bahkan proses kelahiran buku ini pun sebuah kisah yang inspiratif pula. Saya membaca buku ‘Menanti Pagi’ pertama kali dalam versi terbitan penerbit Indie, tahun 2017. Saya ingat saat kami membicarakan novel ini, Teh Dian Yuni Pratiwi mengutarakan keinginannya untuk dapat menerbitkan novel ini di penerbit mayor. Setelah berjuang memasukkan naskah dari satu penerbit ke penerbit lain, akhirnya Teh Dian bertemu ‘pagi’ nya di dunia kepenulisan. Tahun 2018 ‘Menanti Pagi’ diterbitkan kembali oleh penerbit Tiga Serangkai. Saya ikut terharu sekaligus bangga ketika mengetahui ini. Dan terus terang, terkejut, karena setelah membaca untuk kedua kali, ada begitu banyak hal baru yang saya sadari dan pelajari dari kisah Nara.


Menanti Pagi berkisah tentang perjalanan hidup seorang Nara hingga menemukan jodohnya. Perjalanan yang diliputi gelap malam, dalam ketidakpastian dan berulangkali terjatuh dalam kegagalan. Perjalanan yang menantikan pagi untuk membawa cahaya kemenangan. Dalam buku ini, pembaca disuguhkan dengan cerita tentang kejujuran pada diri sendiri, keikhlasan, perjuangan, dan tentang makna memaafkan.


Dari semua kejadian yang dialami Nara, sang tokoh utama, saya menyadari ada satu hal penting yang menjadi benang merahnya, yakni pilihan sikap. Dalam hidup, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk kejadian-kejadian menyakitkan. Misalnya terhadap kegagalan atau trauma masa lalu yang menyedihkan, seseorang bisa saja menghindar atau malah menyalahkan orang lain atas penderitaannya. Nara, dalam kisah Menanti Pagi justru memilih menghadapinya dengan berani, menjadikannya kekuatan untuk terus berjuang meraih mimpi.


Melalui kisahnya, Nara seperti mengatakan: “Ketika rasa sakit itu terus menghantammu, lakukan sesuatu! Jangan menghindar, jangan menyangkalnya dan berpura-pura baik-baik saja. Semakin kau berusaha menghindarinya, semakin ia terasa menyakitkan. Terima ia sebagai bagian dari hidupmu.” Ini seolah menegaskan bahwa dalam perjalanan kehidupan, rasa sakit hanyalah sebuah umpan balik. Pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan perlu diperbaiki. Ia menjadi pelajaran, yang membuat kita memahami diri sendiri, yang membuat kita berhati- hati dalam berbuat maupun mengambil keputusan. Cara Nara menyikapi rasa sakitnya menyadarkan saya bahwa sebesar apapun masalahnya, sesakit apapun rasanya, tidak akan pernah lebih besar dari kebesaran, keagungan, dan kasih sayang Rabb pada hambaNya.




Judul: Menanti Pagi

Penulis: Dian Yuni Pratiwi

Tanggal Terbit Maret 2018

ISBN 9786020894997

Penerbit Tiga Serangkai

Harga: Rp 37.000

226 views