Mengenali Diri dan Mencintainya

© 2019 by Siaware

  • SIAware Community

Mengenali Diri dan Mencintainya

Oleh: Dzerlina Syanaiscara Rahari, SIAware 31



Ada berapa banyak sahabat dekatmu? Apakah kalian tahu apa warna kesukaannya? Apa saja yang dilakukannya ketika sedang sedih? Atau serial film favorit yang membuatnya rela tak tidur semalaman? Ah, pasti kalian tahu semua itu. Karena kalian pasti sangat peduli pada sahabat kalian. Iya kan? Tak akan kalian biarkan sahabat kalian mengalami kesedihan tanpa kalian ada di sampingnya, menghiburnya dan membuatnya nyaman.

Lalu, bagaimana dengan diri kalian sendiri? Apakah kalian tahu apa yang paling diperlukan dirimu saat sedang sedih atau kecewa? Apakah kalian akan membuat diri menjadi nyaman dengan mengakui perasaan-perasaan itu, atau justru menganggapnya angin lalu?

“Ah, ngapain aku sedih, ngapain aku kecewa, toh nggak ada yang peduli. Udahlah aku lupain aja perasaan ini. Nggak penting!”

Seberapa jauh kalian sudah mengenali diri sendiri?


Aku dan Asumsiku

Sering kali, aku berpikir tak bisa melakukan apa-apa. Semua pekerjaan rasanya tak ada yang beres. Ah, aku memang payah. Sudahlah aku menyerah saja. Tak ada gunanya berjuang lagi.

Pada banyak kesempatan pun, aku menutup diri dari orang banyak. Aku merasa tidak akan ada yang mengerti aku. Tidak akan ada yang paham kegelisahanku.

“Untuk apa cerita masalahku ke orang lain. Toh, mereka nggak akan ngerti.”

Begitulah asumsi-asumsi memenuhi kepalaku.

Hingga suatu saat, aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku. Aku merasa lelah, saaaaaangat lelah. Seperti kelelahan mendaki gunung sembari membawa puluhan kilo beban. Namun bedanya saat itu aku tak tahu mengapa rasa lelah itu muncul. Aku hanya merasa, tak berdaya. Dan aku hanya bisa menyalahkan keadaan untuk hal yang aku rasakan itu.

Lalu yang kulakukan adalah, menenggelamkan diri dalam cerita orang-orang di media sosial. Scroll... scroll... scroll... Cerita-cerita yang terpampang membuatku berpikir, hidup mereka tampaknya sempurna ya. Lah, aku? Masih begini-begini saja.


Siaware dan Sebuah Pilihan

Tiba-tiba, mataku tertumbuk pada sebuah cerita salah seorang influencer yang memberitahukan tentang pendaftaran Siaware. Aku penasaran, lalu kucari informasinya. SIAware, Self-Insight Awareness Training.

Hei, pelatihan macam apa ini yang tidak ada satupun alumni yang membocorkan aktivitasnya? Berbayar pula. Tetapi dari testimoni alumni, mereka bilang itu mengubah hidup mereka dan membantu mereka mengenali diri sendiri. Ah, masa sih? Aku mencari dan terus mencari, hingga pada satu titik aku berkata pada diriku, “Aku membutuhkan ini!”.

Namun, masih saja diriku ragu. Apakah mungkin Siaware akan menjawab semua masalah-masalahku? Apakah aku akan sanggup untuk menerima apapun perubahan diriku setelah mengikuti ini? Apakah ini semua tidak akan sia-sia belaka? Dan banyak pikiran lain yang meragukanku.

Tapi hati kecilku berkata, “Jika tidak dicoba bagaimana bisa tahu hasilnya? Bukankah ini bagian dari usahamu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu?”

Dan akhirnya, aku putuskan untuk mengikuti semua alur training motivasi diri bernama Siaware ini. Aku memilih berjuang untuk diriku…


Terima Kasih, Diriku

Dan lalu, Siaware mengajarkanku memahami tentang diri ini lebih dalam. Dulu aku tidak menyadari adanya batas yang kubuat sendiri antara aku dan dunia luar. Ternyata, sudut pandangku saja yang tidak tepat. Menganggap tak ada yang bisa mengerti aku. Kini seolah, segala batas itu terhempas. Aku mulai terbuka pada orang lain.

Siaware juga membuatku sadar tentang kekuatan diriku. Hal-hal yang tadinya tidak kuperhatikan dan terabaikan, namun ada di sana. Hal-hal yang membuatku berpikir, “Wah, ternyata aku bisa!”. Hal-hal dalam diriku yang membuatku berkata,

“Wahai diriku, terima kasih karena telah berjuang untukku selama ini. Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu bertahan.”

Ya, Siaware mengajarkanku untuk mencintai diriku sendiri, apapun keadaannya. Karena hidup hanya sekali, dan hidupku ini berharga!


Yogyakarta, 23 Agustus 2019

109 views